Biru Dorong Pemerintah Sediakan Air Minum Terdesentralisasi

Biru Dorong Pemerintah Sediakan Air Minum Terdesentralisasi

Akses air bersih untuk minum adalah salah satu tantangan global yang membutuhkan penanganan bersama dari banyak pihak. Pelayanan publik dalam penyediaan sektor air minum yang layak ini erat kaitannya dengan pengentasan kemiskinan. Kurang memadainya prasarana dan sarana air minum berdampak pada buruknya kondisi kesehatan dan lingkungan yang juga berpengaruh pada tingkat perekonomian masyarakat.

Penyediaan kebutuhan air minum layak kepada masyarakat ini menjadi tugas dan tanggungjawab pemerintah. Sampai saat ini, pemerintah berencana memasang beberapa keran air siap minum guna memfasilitasi kemudahan akses air minum. Namun, jika fasilitas air minum tersebut digunakan selain untuk minum, maka akan berdampak pada banyaknya pemborosan sumber daya mengingat besarnya biaya yang dikeluarkan.

Melihat hal itu, Yantje Wongso, Founder & CEO PT. Biru Semesta Abadi, franchise Depo Air Minum Biru, angkat bicara. “Masalah ini harus menjadi pertimbangan penting bagi negara dan masyarakat dunia, khususnya Indonesia, ” kata Yantje.

“Pemborosan sumber daya tersebut meliputi penggunaan dana investasi, teknologi, sumber daya manusia, bahan baku, dan lain-lain. Pemborosan sumber daya ini terkait dengan proses perlakuan air baku untuk mencapai kualitas sesuai dengan kegunaannya, dan manajemen distribusi air kepada penggunanya,” jelas Yantje dalam presentasi bertajuk “A Value Observation on Tap Water Quality for Drinking” atau dalam bahasa Indonesia, “Tinjauan Value dari Kualitas Air Kran untuk Minum”. Presentasi tersebut disampaikan dalam forum konferensi penghargaan internasional Best Quality Leadership Award 2018 dari European Society for Quality Research (ESQR), di Palace III Ballroom Hotel Caesars Palace, Las Vegas, Amerika Serikat pada Senin (10/12/2018).

Menurut Yantje, dari data yang ada, hanya kurang dari 10 persen kebutuhan air harian rumah tangga digunakan untuk dikonsumsi atau diminum.  Penggunaan lebih dari 90 persen air rumah tangga dengan kualitas air minum, bila digunakan untuk melakukan beberapa aktivitas sanitasi seperti mandi, membilas wc, menyiram kebun, mencuci piring atau baju, merupakan pemborosan yang sungguh besar.

“Saya mendorong pemerintah negara maju maupun negara berkembang untuk lebih baik dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas, dengan berfokus kepada penyediaan air bersih untuk wilayah pemukiman di kota. Akan sangat efisien bila pemerintah menyediakan air bersih melalui fasilitas produksi yang tersentralisasi dalam skala ekonomi yang besar,” kata Yantje.

Yantje menyarankan untuk air minum, pemerintah dapat menyediakan solusi terdesentralisasi berupa unit-unit produksi yang lebih kecil di titik-titik populasi untuk meningkatkan kualitas air bersih menjadi air sehat untuk konsumsi. “Unit-unit produksi air minum tersebut haruslah dikelola secara komersial sekaligus sosial, yaitu sebagai depo komersial nirlaba yang mandiri,” kata Yantje.

Simak presentasi lebih lanjut di link berikut:
Versi Bahasa Indonesia
Versi Bahasa Inggris

Lihat video lengkapnya di:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *