Kuncinya Terus Mengedukasi Pasar DAM

Biru Raih Franchise Market Leader 3 Kali

Di Industri franchise, Biru adalah satu-satunya penguasa Depo Air Minum. Merek ini pun banyak meraih penghargaan bergengsi. Kuncinya terus mengedukasi pasar dan melakukan effort marketing di berbagai media.

Penulis : Zaziri (Majalah Info Franchise – Edisi November 2017 Halaman 45)
———————

Pasar Depo Air Minum (DAM) di Indonesia begitu besar. Pada 2014 saja, market size pasar ini mencapai 12,8 miliar liter. Namun hanya segelintir pemain waralaba yang menikmati pasar ini, bahkan bisa dibilang hanya satu merek, karena tidak ada pesaing berarti yang muncul di industry franchise. Dia adalah Depo Air Minum Isi Ulang Biru.

Penjualan Biru di tahun 2016 mencapai 26,5 juta galon (19 liter) atau 503 juta liter air. Tentu saja angka ini untuk sektor air minum di Indonesia masih terhitung kecil. ”Namun data ini juga sekaligus menunjukkan potensi pertumbuhan yang luar biasa dari usaha Depo Air Minum (DAM) Biru di tahun-tahun mendatang,” ujar Yantje Wongso, Founder sekaligus Director PT. Biru Semesta Abadi.

Potensi ini juga dapat dilihat dengan meninjau hukum kekuatan jaringan (Hukum Metcalf) yang menyatakan bahwa bila diperbandingkan dengan DAM lain yang yang berdiri sendiri-sendiri tanpa kekuatan jaringan, maka kekuatan DAM Biru saat ini adalah sebanyak 292 x 292 = 85.264 gerai.

Maka tidak heran bila Biru terus mengukuhkan diri sebagai market leader di industri waralaba untuk kategori bisnis Depo Air Minum. Sejak memulai usaha franchise di tahun 2006, Biru sejatinya sudah menguasai pangsa pasar ini. Dunia usaha Depo Air Minum (DAM) di platform franchise, Biru masih mencatat sebagai yang pertama dan satu-satunya franchise DAM.

Menurut Yantje, Biru adalah usaha DAM pertama dan satu-satunya yang berijin resmi sebagai usaha waralaba/franchise (STPW). ”Sehingga bisa dikatakan Biru memimpin dengan kuat franchise DAM di Indonesia dengan merealisasikan pertumbuhan gerai yang baik dengan prestasi operasional gerai yang meningkat baik pula,” katanya.

Saat ini, kata Yantje, tantangan yang terbesar adalah meg-edukasi pasar untuk mengerti tentang usaha DAM pada umumnya, dan khususnya tentang usaha Biru yang memberikan solusi “harga sekaligus kualitas” yang terbaik – “value”  terbaik – bagi masyarakat konsumen air minum sehari-hari. “Tantangan yang juga penting adalah bagaimana memimpin dan membangun jaringan franchise Biru dengan franchisee yang happy dan bersinergi,” jelasnya.

Per bulan Oktober 2017, jaringan franchise Biru telah mencapai 292 gerai. Tak dipungkiri, yang membuat franchise ini unggul dari pesaing adalah kekuatan jaringan yang meluas (saat ini ada 27 kota), “dan rekor tidak ada gerai Biru yang merugi (rapor merah) sejak mulai berdirinya gerai Biru pertama di tahun 2002,” ungkap Yantje. “Tentunya peminat franchise dan franchisee melihat faktor resiko yang rendah dengan kekuatan margin yang besar sebagai daya tarik utama untuk mengembangkan usaha Biru mereka,” tambahnya.

Selain mengandalkan jaringan, kata Yantje, untuk menguasai pasar bisnis ini, Biru melakukan beberapa effort marketing. Antara lain komunikasi marketing (iklan, publikasi, dsb) harus aktif, konsisten, dan terukur. Selanjutnya kata dia, gerai dan organisasi Biru juga harus mampu menunjukkan prestasi pelayanan & produk, keuntungan dan pertumbuhan yang baik. “Singkatnya, kemasan-nya baik, isi-nya juga harus baik. Sehingga merek Biru menjadi merek yang terpopuler dan terpercaya bagi masyarakat umum, dan khususnya bagi konsumen Depo Air Minum,” tandasnya.

Beberapa waktu yang lalu, ungkap Yantje, PT. Biru Semesta Abadi telah mendapatkan dua penghargaan yang penting, yaitu “The Best Market Driving Company – Marketing Award 2017 oleh Marketing Group, yang menguji 3 faktor bisnis paling utama yaitu: Strategi, Implementasi, dan Performansi bisnis. Kedua, The BIZZ 2017, oleh WOLRDCOB USA, sebuah penghargaan internasional dalam event The Bizz Americas yang diselenggarakan di Saint Thomas, US Virgin Islands pada bulan July 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *